Incel
Incel adalah para anggota subkultur maya yang menyebut diri mereka tak mampu menemukan pasangan kekasih atau seksual meskipun menginginkannya, suatu keadaan yang mereka sebut sebagai inceldom.[1] Mereka sering menyalahkan, mengobjektifkan, dan merendahkan perempuan sebagai akibatnya. Secara umum, incel adalah laki-laki yang heteroseksual.[2] Istilah tersebut adalah sebuah lakuran dari "involuntary celibates" (selibasi tak sukarela).[3]
Para incel dibenci oleh orang orang yang memiliki hubungan seksual yang baik, ataupun ikatan yang ketat dengan feminisme dan revolusi seksual. Mereka sering menyalahkan, menghina, dan memandang wanita sebagai objek.[4][5][6]
Incel mulai populer secara daring melalui media sosial dan sering dikaitkan oleh seksisme,[7][8] antifeminisme,[7][8] objektifikasi seksual,[9] dehumanisasi terhadap perempuan,[10] misogini,[11] rasisme,[11][12] budaya pemerkosaan,[13] serta dukungan terhadap kekerasan seksual atau nonseksual terhadap perempuan.[9]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Mezzofiore, Gianluca (April 25, 2018). "The Toronto suspect apparently posted about an 'incel rebellion.' Here's what that means". CNN. Atlanta, Georgia: Turner Broadcasting Systems. Diakses tanggal April 26, 2018.
- ↑ Wilson, Jason (2018-04-25). "Toronto van attack: Facebook post may link suspect to misogynist 'incel' subculture". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diakses tanggal 2025-08-29.
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama:18 - ↑ Beauchamp, Zack (2018-04-25). "Incel, the misogynist ideology that inspired the deadly Toronto attack, explained". Vox (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-29.
- ↑ "On Social Media's Fringes, Growing Extremism Targets Women" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-29.
- ↑ Mezzofiore, Gianluca (2018-04-25). "The Toronto suspect apparently posted about an 'incel rebellion.' Here's what that means". CNN (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-29.
- 1 2 Gheorghe, Ruxandra M. (2024-02-01). ""Just Be White (JBW)": Incels, Race and the Violence of Whiteness". Affilia (dalam bahasa Inggris). 39 (1): 59–77. doi:10.1177/08861099221144275. ISSN 0886-1099.
- 1 2 Grunau, Karolin; Bieselt, Helena E.; Gul, Pelin; Kupfer, Tom R. (2022-12-01). "Unwanted celibacy is associated with misogynistic attitudes even after controlling for personality". Personality and Individual Differences. 199: 111860. doi:10.1016/j.paid.2022.111860. ISSN 0191-8869.
- 1 2 Preston, Kayla; Halpin, Michael; Maguire, Finlay (2021-12). "The Black Pill: New Technology and the Male Supremacy of Involuntarily Celibate Men". Men and Masculinities. 24 (5): 823–841. doi:10.1177/1097184X211017954. ISSN 1097-184X. PMC 8600582. PMID 34803370.
- ↑ Kennedy-Kollar, Deniese (2024-03-26). Extremism and Radicalization in the Manosphere: Beta Uprising (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). New York: Routledge. doi:10.4324/9781032631080-7. ISBN 978-1-032-63108-0.
- 1 2 Burton, Anthony G. (2022-12). "Blackpill Science: Involuntary Celibacy, Rational Technique, and Economic Existence under Neoliberalism". Canadian Journal of Communication. 47 (4): 676–701. doi:10.3138/cjc.2022-07-25. ISSN 0705-3657.
- ↑ Baumgärtner, Maik; Höfner, Roman; Müller, Ann-Katrin; Rosenbach, Marcel (2021-03-10). "Hatred Against Women: The Dark World of Extremist Misogyny". Der Spiegel (dalam bahasa Inggris). ISSN 2195-1349. Diakses tanggal 2025-08-29.
- ↑ Powell, Anastasia; Sugiura, Lisa (2018-10-30). DeKeseredy, Walter S.; Rennison, Callie Marie; Hall-Sanchez, Amanda K. (ed.). Resisting rape culture in digital society (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). 1 Edition. | New York : Routledge, 2019. |: Routledge. hlm. 447–457. doi:10.4324/9781315270265-42. ISBN 978-1-315-27026-5. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)