Informasi
Informasi adalah sebuah konsep abstrak yang merujuk pada sesuatu yang memiliki kekuatan untuk memberi tahu. Pada tingkat yang paling mendasar, istilah ini berkaitan dengan penafsiran (mungkin juga secara formal) atas sesuatu yang dapat diindra atau atas abstraksi dari hal-hal tersebut. Setiap proses alami yang tidak sepenuhnya acak serta setiap pola yang dapat diamati dalam suatu medium dapat dikatakan memuat sejumlah informasi. Jika sinyal digital dan berbagai bentuk data menyampaikan informasi melalui tanda-tanda diskret, maka fenomena dan artefak lain seperti sinyal analog, puisi, gambar, musik atau bunyi-bunyian lain, serta arus menyampaikan informasi dalam bentuk yang lebih kontinu.[1] Informasi bukanlah pengetahuan itu sendiri, melainkan makna yang dapat diperoleh dari suatu representasi melalui proses penafsiran.[2]
Konsep informasi memiliki keterkaitan dengan berbagai gagasan lain,[3] antara lain kendala, komunikasi, pengendalian, data, bentuk, pendidikan, pengetahuan, makna, pemahaman, rangsangan mental, pola, persepsi, proposisi, representasi, dan entropi.
Informasi sering kali diproses secara bertahap dan berulang: data yang tersedia pada satu tahap akan diproses menjadi informasi, yang kemudian ditafsirkan dan diproses kembali pada tahap berikutnya. Misalnya, dalam teks tertulis, setiap simbol atau huruf menyampaikan informasi yang relevan dengan kata tempatnya berada; setiap kata menyampaikan informasi yang relevan dengan frasa yang dibentuknya; setiap frasa mengandung informasi yang relevan dengan kalimatnya, dan seterusnya, hingga pada tahap akhir informasi ditafsirkan dan menjadi pengetahuan dalam suatu ranah tertentu. Dalam sinyal digital, bit dapat ditafsirkan menjadi simbol, huruf, angka, atau struktur yang membawa informasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ciri utama dari informasi adalah bahwa ia selalu tunduk pada proses penafsiran dan pemrosesan.
Proses memperoleh informasi dari suatu sinyal atau pesan dapat dipahami sebagai upaya untuk menyelesaikan ambiguitas atau ketidakpastian yang timbul selama proses penafsiran pola-pola dalam sinyal atau pesan tersebut.[4] Informasi dapat disusun dalam bentuk data. Data yang berulang atau berlebihan dapat dikompresi hingga mencapai ukuran optimal, yakni batas teoretis dari kompresi tersebut. Informasi yang tersirat dalam sekumpulan data dapat diperoleh melalui analisis. Sebagai contoh, sebuah restoran mengumpulkan data dari setiap pesanan pelanggan. Data tersebut kemudian dapat dianalisis untuk menghasilkan pengetahuan yang berguna, misalnya untuk menentukan hidangan yang paling populer atau paling jarang dipesan.[butuh rujukan]
Informasi dapat ditransmisikan melalui waktu, lewat penyimpanan data, dan melalui ruang, lewat komunikasi serta telekomunikasi.[5] Informasi dapat diekspresikan baik sebagai isi dari sebuah pesan maupun melalui pengamatan langsung atau tidak langsung. Apa pun yang dapat dipersepsi dapat dianggap sebagai pesan itu sendiri; dalam pengertian ini, segala informasi senantiasa disampaikan sebagai isi dari suatu pesan. Informasi dapat dikodekan dalam berbagai bentuk untuk transmisi dan penafsiran. Misalnya, informasi dapat dikodekan ke dalam urutan tanda-tanda atau dikirimkan melalui sinyal. Informasi juga dapat dienkripsi untuk disimpan atau dikomunikasikan dengan aman.
Ketidakpastian suatu peristiwa diukur berdasarkan probabilitas kemungkinannya. Ketidakpastian berbanding lurus dengan logaritma negatif dari probabilitas kejadian tersebut. Teori informasi memanfaatkan prinsip ini untuk menyimpulkan bahwa peristiwa yang lebih tidak pasti memerlukan lebih banyak informasi guna mengurangi ketidakpastian itu. Bit merupakan satuan informasi yang umum digunakan, yakni satuan yang "mengurangi ketidakpastian sebesar separuh."[6] Satuan lain seperti nat juga dapat digunakan. Sebagai contoh, informasi yang dikodekan dalam satu kali pelemparan koin "adil" adalah log2(2/1) = 1 bit, dan dalam dua kali pelemparan adalah log2(4/1) = 2 bit. Sebuah artikel Science tahun 2011 memperkirakan bahwa 97% informasi yang tersimpan secara teknologi pada tahun 2007 sudah berbentuk bit digital, serta bahwa tahun 2002 menandai awal era digital dalam penyimpanan informasi (karena kapasitas penyimpanan digital untuk pertama kalinya melampaui analog).[7]
Teori informasi
[sunting | sunting sumber]Teori informasi adalah kajian ilmiah mengenai kuantisasi, penyimpanan, dan komunikasi informasi. Bidang ini pertama kali diletakkan secara mendasar melalui karya Claude Shannon pada tahun 1940-an, dengan kontribusi awal dari Harry Nyquist dan Ralph Hartley pada dekade 1920-an.[8][9] Teori ini berada pada perpotongan antara teori probabilitas, statistika, ilmu komputer, mekanika statistik, rekayasa informasi, dan teknik elektro.
Ukuran utama dalam teori informasi adalah entropi. Entropi mengukur tingkat ketidakpastian yang terkait dengan nilai suatu variabel acak atau hasil dari suatu proses acak. Sebagai contoh, menentukan hasil dari lemparan koin yang adil (dengan dua kemungkinan yang sama besar) menghasilkan lebih sedikit informasi (entropi lebih rendah) dibandingkan dengan menentukan hasil dari lemparan dadu (dengan enam kemungkinan yang sama besar). Ukuran penting lainnya dalam teori informasi mencakup informasi mutual, kapasitas kanal, eksponen kesalahan, dan entropi relatif. Sub-bidang penting dalam teori ini antara lain pengkodean sumber, teori kompleksitas algoritmik, teori informasi algoritmik, dan keamanan berbasis teori informasi.[butuh rujukan]
Penerapan utama teori informasi meliputi pengkodean sumber atau kompresi data (misalnya pada berkas ZIP), serta pengkodean kanal untuk pendeteksian dan koreksi kesalahan (seperti pada DSL). Dampaknya sangat penting bagi keberhasilan misi Voyager ke ruang angkasa jauh, penemuan cakram padat, keberfungsian telepon seluler, dan pengembangan Internet. Teori ini juga memiliki penerapan luas di bidang lain, termasuk inferensi statistik,[10] kriptografi, neurobiologi,[11] persepsi,[12] linguistik, evolusi[13] dan fungsi[14] dari kode molekuler (bioinformatika), fisika termal,[15] komputasi kuantum, lubang hitam, pencarian informasi, pengumpulan intelijen, deteksi plagiarisme,[16] pengenalan pola, deteksi anomali[17] bahkan dalam penciptaan karya seni.
Sebagai masukan sensorik
[sunting | sunting sumber]Sering kali, informasi dapat dipandang sebagai bentuk masukan bagi suatu organisme atau sistem. Masukan ini terbagi menjadi dua jenis. Sebagian masukan bersifat penting secara langsung bagi fungsi organisme (misalnya makanan) atau sistem (energi). Dalam bukunya Sensory Ecology,[18] ahli biofisika David B. Dusenbery menyebut masukan jenis ini sebagai masukan kausal. Masukan lainnya (yakni informasi) penting bukan karena nilainya sendiri, melainkan karena berkaitan dengan masukan kausal dan dapat digunakan untuk memperkirakan kemunculan masukan kausal pada waktu (atau tempat) yang berbeda. Beberapa jenis informasi penting karena asosiasinya dengan informasi lain, tetapi pada akhirnya harus selalu terkait dengan masukan kausal.
Dalam praktiknya, informasi biasanya dibawa oleh rangsangan lemah yang perlu dideteksi oleh sistem sensorik khusus dan diperkuat dengan masukan energi agar dapat berfungsi bagi organisme atau sistem tersebut. Misalnya, cahaya pada tumbuhan umumnya (meski tidak selalu) merupakan masukan kausal yang memengaruhi pertumbuhan ke arah sumber cahaya, sementara bagi hewan, cahaya berfungsi sebagai pembawa informasi. Cahaya berwarna yang dipantulkan dari bunga terlalu lemah untuk fotosintesis, tetapi sistem penglihatan lebah mampu mendeteksinya, dan sistem saraf lebah menggunakan informasi tersebut untuk menuntunnya ke bunga, tempat lebah biasanya memperoleh nektar atau serbuk sari, yakni masukan kausal yang memiliki fungsi nutrisi.
Sebagai pengaruh yang menuntun pada transformasi
[sunting | sunting sumber]Informasi dapat dipahami sebagai setiap bentuk pola yang memengaruhi pembentukan atau transformasi pola lainnya.[19][20] Dalam pengertian ini, keberadaan pikiran sadar tidaklah diperlukan untuk mengenali, apalagi menghargai, pola tersebut. Sebagai contoh, DNA memiliki urutan nukleotida yang merupakan pola yang mengatur pembentukan dan perkembangan organisme tanpa memerlukan kesadaran. Namun, ketika manusia secara sadar mendefinisikan pola semacam itu (misalnya nukleotida) proses tersebut secara alami melibatkan pemrosesan informasi secara sadar. Meski demikian, keberadaan organisme uniseluler dan organisme multiseluler dengan biokimia yang kompleks (yang memungkinkan terbentuknya enzim dan polinukleotida yang saling berinteraksi menjaga keteraturan biologis serta berperan dalam perkembangan organisme) telah mendahului munculnya kesadaran manusia dan budaya ilmiah selama jutaan tahun.
Teori sistem kadang menggunakan istilah "informasi" dalam pengertian ini, dengan asumsi bahwa informasi tidak selalu melibatkan kesadaran, dan pola-pola yang beredar dalam sistem melalui umpan balik dapat dianggap sebagai informasi. Dengan kata lain, informasi dalam konteks ini merupakan sesuatu yang berpotensi dipersepsikan sebagai representasi, meski tidak diciptakan dengan tujuan demikian. Sebagai contoh, Gregory Bateson mendefinisikan "informasi" sebagai "perbedaan yang menimbulkan perbedaan".[21]
Namun, bila pengaruh tersebut diartikan sebagai hasil persepsi dan penafsiran oleh pikiran sadar, maka konteks tertentu yang melekat pada penafsiran itu dapat mengubah informasi menjadi pengetahuan. Definisi yang kompleks atas "informasi" dan "pengetahuan" sering kali menyulitkan analisis semantik dan logisnya, tetapi kondisi "transformasi" tetap menjadi aspek penting dalam studi hubungan antara informasi dan pengetahuan, terutama dalam bidang manajemen pengetahuan. Dalam praktik ini, berbagai alat dan proses digunakan untuk membantu seorang pekerja pengetahuan dalam melakukan penelitian dan pengambilan keputusan, mencakup langkah-langkah seperti:
- Meninjau informasi untuk menurunkan nilai dan makna yang efektif
- Merujuk pada metadata bila tersedia
- Menetapkan konteks relevan, sering kali di antara berbagai kemungkinan konteks
- Menurunkan pengetahuan baru dari informasi yang ada
- Mengambil keputusan atau membuat rekomendasi berdasarkan pengetahuan yang dihasilkan
Stewart (2001) berpendapat bahwa transformasi informasi menjadi pengetahuan adalah inti dari penciptaan nilai dan keunggulan kompetitif bagi organisasi modern.
Dalam kerangka biologis, Mizraji[22] mendeskripsikan informasi sebagai entitas yang muncul dari interaksi antara pola dengan sistem reseptor (misalnya reseptor molekuler atau saraf yang berinteraksi dengan pola tertentu). Ia juga memperkenalkan gagasan tentang "katalis informasi", yaitu struktur tempat informasi yang muncul mendorong transisi dari pengenalan pola menuju tindakan yang berorientasi pada tujuan, seperti transformasi substrat menjadi produk oleh enzim, atau resepsi auditori kata-kata yang diikuti oleh respons verbal.
Kamus Istilah Informasi Denmark[23] menyatakan bahwa informasi hanya menyediakan jawaban bagi pertanyaan yang diajukan. Apakah jawaban itu menghasilkan pengetahuan bergantung pada pihak yang menerima informasi. Maka, definisi umum dari konsep ini dapat dirumuskan sebagai: "Informasi = jawaban atas suatu pertanyaan tertentu."
Ketika Marshall McLuhan berbicara tentang media dan dampaknya terhadap kebudayaan manusia, ia merujuk pada struktur artefak budaya yang membentuk perilaku serta cara berpikir kita. Dalam pengertian ini, feromon juga kerap disebut sebagai bentuk "informasi".
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Ketepatan dan presisi
- Sistem adaptif kompleks
- Sistem kompleks
- Penyimpanan data
- Engram
- Infrastruktur Informasi Bebas
- Kebebasan informasi
- Informatika
- Teknologi informasi dan komunikasi
- Arsitektur informasi
- Pialang informasi
- Kontinuum informasi
- Ekologi informasi
- Rekayasa informasi
- Geometri informasi
- Ketimpangan informasi
- Infrastruktur informasi
- Manajemen informasi
- Metabolisme informasi
- Kelebihan informasi
- Kualitas informasi (InfoQ)
- Ilmu informasi
- Sensitivitas informasi
- Teknologi informasi
- Teori informasi
- Perang informasi
- Infosfer
- Biaya informasi leksikografis
- Ilmu perpustakaan
- Meme
- Filsafat informasi
- Informasi kuantum
- Karakteristik pengoperasian penerima
- Satisficing
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ John B. Anderson; Rolf Johnnesson (1996). Understanding Information Transmission. Ieee Press. ISBN 978-0-471-71120-9.
- ↑ Hubert P. Yockey (2005). Information Theory, Evolution, and the Origin of Life. Cambridge University Press. hlm. 7. ISBN 978-0-511-54643-3.
- ↑ Luciano Floridi (2010). Information – A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-160954-1.
- ↑ Webler, Forrest (25 Februari 2022). "Measurement in the Age of Information". Information. 13 (3): 111. doi:10.3390/info13030111.
- ↑ "World_info_capacity_animation". YouTube. 11 Juni 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-21. Diakses tanggal 1 Mei 2017.
- ↑ "DT&SC 4-5: Information Theory Primer, Online Course". YouTube. University of California. 2015.
- ↑ Hilbert, Martin; López, Priscila (2011). "The World's Technological Capacity to Store, Communicate, and Compute Information". Science. 332 (6025): 60–65. Bibcode:2011Sci...332...60H. doi:10.1126/science.1200970. PMID 21310967. S2CID 206531385. Akses bebas terhadap artikel tersedia di martinhilbert.net/WorldInfoCapacity.html
- ↑ Pérez-Montoro Gutiérrez, Mario; Edelstein, Dick (2007). The Phenomenon of Information: A Conceptual Approach to Information Flow (dalam bahasa Inggris). Lanham (Md.): Scarecrow Press. hlm. 21–22. ISBN 978-0-8108-5942-5.
- ↑ Wesołowski, Krzysztof (2009). Introduction to Digital Communication Systems (PDF) (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1. publ). Chichester: Wiley. hlm. 2. ISBN 978-0-470-98629-5.
- ↑ Burnham, K. P. dan Anderson D. R. (2002) Model Selection and Multimodel Inference: A Practical Information-Theoretic Approach, Second Edition (Springer Science, New York) ISBN 978-0-387-95364-9.
- ↑ F. Rieke; D. Warland; R Ruyter van Steveninck; W Bialek (1997). Spikes: Exploring the Neural Code. The MIT press. ISBN 978-0-262-68108-7.
- ↑ Delgado-Bonal, Alfonso; Martín-Torres, Javier (2016-11-03). "Human vision is determined based on information theory". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 6 (1) 36038. Bibcode:2016NatSR...636038D. doi:10.1038/srep36038. ISSN 2045-2322. PMC 5093619. PMID 27808236.
- ↑ cf; Huelsenbeck, J. P.; Ronquist, F.; Nielsen, R.; Bollback, J. P. (2001). "Bayesian inference of phylogeny and its impact on evolutionary biology". Science. 294 (5550): 2310–2314. Bibcode:2001Sci...294.2310H. doi:10.1126/science.1065889. PMID 11743192. S2CID 2138288.
- ↑ Allikmets, Rando; Wasserman, Wyeth W.; Hutchinson, Amy; Smallwood, Philip; Nathans, Jeremy; Rogan, Peter K. (1998). "Thomas D. Schneider], Michael Dean (1998) Organization of the ABCR gene: analysis of promoter and splice junction sequences". Gene. 215 (1): 111–122. doi:10.1016/s0378-1119(98)00269-8. PMID 9666097.
- ↑ Jaynes, E. T. (1957). "Information Theory and Statistical Mechanics". Phys. Rev. 106 (4): 620. Bibcode:1957PhRv..106..620J. doi:10.1103/physrev.106.620. S2CID 17870175.
- ↑ Bennett, Charles H.; Li, Ming; Ma, Bin (2003). "Chain Letters and Evolutionary Histories". Scientific American. 288 (6): 76–81. Bibcode:2003SciAm.288f..76B. doi:10.1038/scientificamerican0603-76. PMID 12764940. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-10-07. Diakses tanggal 2008-03-11.
- ↑ David R. Anderson (November 1, 2003). "Some background on why people in the empirical sciences may want to better understand the information-theoretic methods" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal July 23, 2011. Diakses tanggal 2010-06-23.
- ↑ Dusenbery, David B. (1992). Sensory Ecology. New York: W.H. Freeman. ISBN 978-0-7167-2333-2.
- ↑ Shannon, Claude E. (1949). The Mathematical Theory of Communication. Bibcode:1949mtc..book.....S.
- ↑ Casagrande, David (1999). "Information as verb: Re-conceptualizing information for cognitive and ecological models" (PDF). Journal of Ecological Anthropology. 3 (1): 4–13. doi:10.5038/2162-4593.3.1.1.
- ↑ Bateson, Gregory (1972). Form, Substance, and Difference, in Steps to an Ecology of Mind. University of Chicago Press. hlm. 448–466.
- ↑ Mizraji, E. (2021). "The biological Maxwell's demons: exploring ideas about the information processing in biological systems". Theory in Biosciences. 140 (3): 307–318. doi:10.1007/s12064-021-00354-6. PMC 8568868. PMID 34449033.
- ↑ Simonsen, Bo Krantz. "Informationsordbogen – vis begreb". Informationsordbogen.dk. Diakses tanggal 1 May 2017.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Liu, Alan (2004). The Laws of Cool: Knowledge Work and the Culture of Information. University of Chicago Press.
- Bekenstein, Jacob D. (August 2003). "Information in the holographic universe". Scientific American. 289 (2): 58–65. Bibcode:2003SciAm.289b..58B. doi:10.1038/scientificamerican0803-58. PMID 12884539.
- Gleick, James (2011). The Information: A History, a Theory, a Flood. New York, NY: Pantheon.
- Lin, Shu-Kun (2008). "Gibbs Paradox and the Concepts of Information, Symmetry, Similarity and Their Relationship". Entropy. 10 (1): 1–5. arXiv:0803.2571. Bibcode:2008Entrp..10....1L. doi:10.3390/entropy-e10010001. S2CID 41159530.
- Floridi, Luciano (2005). "Is Information Meaningful Data?" (PDF). Philosophy and Phenomenological Research. 70 (2): 351–370. doi:10.1111/j.1933-1592.2005.tb00531.x. hdl:2299/1825. S2CID 5593220.
- Floridi, Luciano (2005). "Semantic Conceptions of Information". Dalam Zalta, Edward N. (ed.). The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Winter 2005). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
- Floridi, Luciano (2010). Information: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press.
- Logan, Robert K. What is Information? – Propagating Organization in the Biosphere, the Symbolosphere, the Technosphere and the Econosphere. Toronto: DEMO Publishing.
- Machlup, F. and U. Mansfield, The Study of information : interdisciplinary messages. 1983, New York: Wiley. xxii, 743 p. ISBN 978-0471887171
- Nielsen, Sandro (2008). "The Effect of Lexicographical Information Costs on Dictionary Making and Use". Lexikos. 18: 170–189.
- Stewart, Thomas (2001). Wealth of Knowledge. New York, NY: Doubleday.
- Young, Paul (1987). The Nature of Information. Westport, Ct: Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-275-92698-4.
- Kenett, Ron S.; Shmueli, Galit (2016). Information Quality: The Potential of Data and Analytics to Generate Knowledge. Chichester, United Kingdom: John Wiley and Sons. doi:10.1002/9781118890622. ISBN 978-1-118-87444-8.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- Semantic Conceptions of Information Review by Luciano Floridi for the Stanford Encyclopedia of Philosophy
- Principia Cybernetica entry on negentropy
- How Much Information? 2003 Diarsipkan 7 April 2010 di Wayback Machine. an attempt to estimate how much new information is created each year (study was produced by faculty and students at the School of Information Management and Systems at the University of California at Berkeley)
- (dalam bahasa Denmark) Informationsordbogen.dk The Danish Dictionary of Information Terms / Informationsordbogen